December 26, 2012

Mengenang 8 Tahun Tsunami (Ie Beuna)





Sebentar lagi memasuki tanggal 26 Desember 2012, Aceh melalukan peringatan Tusnami (Ie Beuna) yang ke 8 (26-12-04 / 26-12-2012). Peristiwa maha dahsyat yang melanda Aceh 8 tahun silam yang memporak-porandakan sebagian besar wilayah Aceh dan korban jiwa 230ribu lebih.

Mengingatkan penulis akan hari dimana peristiwa Ie Beuna terjadi, tepat diawal selesai sekolah dan  beberapa bulan bekerja sebagai pelayan salah satu toko grosiran sembako seputaran peunayong, Banda Aceh. Minggu 26-12-2012 pagi 8 tahun silam, Aceh diguncang gempa berkekuatan 9.3 SR di susul Tsunami (Ie Beuna). Penulis menyelamatkan diri tanpa tujuan arah kemana harus lari tanpa mengetahui jalan.

Singkat cerita, sebagai orang yang baru beranjak ke kota saat itu yang terbayang hanya sosok ibu tercinta di kampung, bermodalkan tumpangan yang silih berganti naik turun kendaraan yang melaju. Akhirnya tepat menjelang maghrib sampailah dikampung, ingin membawa kabar gembira kepada orang tua bahwa anaknya selamat, namun berubah menjadi berita duka rasanya tulang ini patah semua tak sanggup berdiri hati ikut terasa perih saat mendengar tentang ibu dari adik yang ternyata ibu telah 3 hari berada di Banda Aceh tepatnya di kawasan kampung mulia tempat sanak-saudara. Apa jadinya pulang membawa berita selamat (gembira), kedukaan yang harus saya dengarkan sebelum kata2 keluar dari mulut ini. Jika saja tidak ditahan sama bapak, dalam detik itu juga saya akan kembali ke kota mencari sang ibu tercinta.

Keesokan harinya siap shalat subuh, perjalanan saya lanjutkan yang sempat tertunda kemarin maghrib dengan di temani oleh sepupu. Datang kekota melihat manyat bergelimpangan dimana2 tak sanggup air mata ini saya hentikan, namun rencana utama tetap dilanjutkan mencari ibu tercinta dan adik yang masih kecil. Semua sirna tak satupun saya temukan, manyat mereka tak juga saya temukan. Air mata terus mengalir mengingat tak sempat melihat senyuman terakhir di wajahmu dan mengecupkan keningmu. Kini engkau telah 8 tahun menghadap Yang maha kuasa Allah pemberi kehidupan. Ikhlas, itulah yang selalu menguatkan anakmu ini ibu, karena yang bernyawa pasti akan mati.

Ibu...
Setiap selesai shalat do'a selalu kuhantarkan untukmu, setiap dikeheningan malam kukirimkan do'a untukmu dengan cucuran air mata. Tanpa henti hati ini selalu mendo'akanmu.

Catatan singkat mengenang Ibu dan adik tercinta serta sanak-saudara kembali ke hadirat Ilahi dan 8 tahun Tsunami (Ie Beuna)
B. Aceh, 26 Desember 2012

2 comments:

  1. turut berduka. rasanya aku gak sanggup ngalami hal seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pak,
      Kalau dirasakan memang semua tak sanggup pak, hanya ikhlas yang bisa menguatkan kita.

      Delete